
Gara-gara sebuah SIM Card, kuburan Arso Banjeglav (67) terpaksa digali kembali. Ini bukan atas perintah pihak kepolisian. Ini merupakan amanah si mendiang kepada keluarganya.
Suatu ketika Arso Banjeglav berpesan kepada anaknya Brano Banjeglav (38). Bahwa jika ia meninggal dunia, ia minta dikuburkan bersama hand phone (HP) miliknya.
HP ini menjadi barang kesayangan Arso. Di rumahnya di kota Cetinje, Montengro, Arso menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari, mengobrol dengan sahabat-sahabatnya melalui HP itu.
Saat kematian datang, Brano tak lupa dengan pesan sang Ayah. HP kesayangan Arso diikutsertakan dalam keranda.
Usai pemakaman, tak sengaja Brano melihat anaknya –berusia 10 tahun- yang tak lain cucu mendiang, tengah bermain-main dengan sebuah SIM Card. Tak dinyana, SIM Card itu milik sang kakek. “Kami telah menaruh HP ke dalam keranda, seperti yang ia inginkan. Aku melihat anakku bermain-main dengan sebuah SIM Card. Ternyata itu SIM Card milik mendiang. Jadi kami menggali kuburan itu lagi, dan meletakkan SIM Card ini ke HP-nya,” ungkap Brano. (Ananova)


