Aku, seorang gadis berusia 21 tahun. Sehari-hari aku bekerja sebagai kasir di supermarket X. Kata orang, mukaku biasa-biasa saja. Tak seorang pun menyebut diriku mirip selebritis. Ya. Memang biasa saja. Lihatlah hidungku, tak mancung. Tengok pula bibirku, tipis tidak, seksi pun tidak. Bahkan di pipiku banyak bekas jerawat. Jerawat meninggalkan jejaknya di pipi ini. Kalau jejak itu manis, tak mengapalah. Tapi ini… jejaknya tak rata. Ada di sini… di sini… di sini, tak beraturan. Sehingga mukaku jadi tak simetris.
Karena itulah, aku sadar. Aku tak pernah mau ikut dalam kontes kecantikan. Mungkin kontes-kontes seperti itu hanya untuk mereka yang berparas anggun. Aku hanya bisa menonton acara-acara seperti itu melalui layar kaca 14 inchi di rumahku yang dindingnya tak berplaster, lantainya tak berkeramik. Terus terang ya… waktu nonton acara seperti itu, kadang-kadang hayalku menerawang jauh. Andai aku yang di dalam televisi itu… andai aku menjadi juara kontes seperti itu… andai rupaku se-level dengan mereka itu… andai aku… dan andai-andai yang lain.
Oh iya, Kamis sepekan lalu, aku didatangi seorang lelaki paruh baya. Pakaiannya rapi, kumisnya yang tebal juga rapi. Aku waktu itu sedang menunggu angkot di halte…tak jauh dari tempat kerjaku.
Mau pulang Dik? sapanya.
Iya, jawabku singkat.
Kerja di supermarket X ya? tanyanya. (Mungkin ia melihat seragam yang ku kenakan. Aku hanya mengangguk)
Terus dia melanjutkan, Saya tadi habis dari sana juga (maksudnya dari supermarket X).
Saya tadi kan bayar belanja di… (dia sambil menunjuk ke diriku yang berada di samping kanannya).
Lupa ya? Oh iya… saya Andi (ujarnya sembari menyodorkan tangannya. Aku pula terpaksa menyambut jabat tangannya. Tapi aku tidak menyebutkan namaku, hanya mengangguk).
Siapa namanya? (dia nanya). (Aku jawab kan…). Ina.
Oh… Ina. Jadi gini lho… mbak Ina. Kebetulan saya ini kerja di perusahaan advertising. Kami sedang butuh beberapa orang untuk model iklan televisi. Nah… kebetulan saya juga ditugaskan mencari model untuk iklan itu. Kalau saya lihat, mbak Ina mungkin calon yang tepat. Tapi memang mesti diaudisi dulu. (Aku diam saja mendengar pak Andi ini mengoceh).
Dia meneruskan obrolannya. Gini aja deh mbak Ina. Ini kartu nama saya (dia merogoh dompetnya, dan memberikan kartu namanya kepadaku). Kalau mbak Ina berminat, telpon saja ke saya dulu. Nanti saya aturkan jadwal kapan mbak Ina bisa ke kantor. Atau kalau belum yakin, main-main aja dulu ke kantor… sambil kita ngobrol.
Iya, ntar dipikir-pikir dulu, kataku.
Tapi jangan kelamaan mikirnya. Paling telat seminggu lagi deh. Soalnya kita sudah harus mulai shooting 10 hari lagi. Ya udah. Saya tunggu ya, mbak Ina.
Oh iya, terimakasih, kataku.
Pria itu kemudian berbalik arah dan meninggalkan tempatnya tadi ngobrol denganku. Aku lihat dia pergi ke tempat parkir. Oh, ternyata dia bawa mobil sendiri. Aku kira mau naik angkot juga.
Sebelum tidur malam itu, aku kembali melihat kartu nama yang diberikannya. Aku lihat nama dan jabatannya, nama dan alamat perusahaannya. Tapi..kenapa dia bilang aku memenuhi syarat menjadi bintang iklan. Iya, seperti sudah ku katakan… aku gadis biasa-biasa saja. Mukaku biasa-biasa saja, bahkan banyak bekas jerawat. Tak seperti muka para selebritis di televisi..cantik, mulus.
Ah entahlah. Mungkin tak ada salahnya aku mencoba kesempatan ini. Aku main saja dulu ke kantornya, seperti yang dia bilang.
Mataku mulai berat..ngantuk. Badan yang telah ku rebahkan di kasur telah menemukan kenikmatannya. Sepertinya dia enggan untuk berdiri lagi. Pikiranku pula menarawang. Aku membayangkan kalau aku jadi bintang iklan televisi. Tapi keinginan mataku untuk tidur mengalahkan pikiran yang tengah menerawang.
Dua hari kemudian, aku menelepon Pak Andi yang dari perusahaan advertising tersebut. Dia memintaku datang ke kantornya keesokan harinya.
Karena aku masih curiga dan ada rasa was-was, aku datang ke kantor Pak Andi tidak sendirian. Karena itu pula, aku minta ditemani seorang laki-laki. Ya iyalah.. kalau aku sama cewek lagi, ya sama aja tak berdayanya..takut kalau ada apa-apa.
Akhirnya aku ketemu Pak Andi di kantornya. Di sana dia menjelaskan, yang akan mempekerjakan aku bukan perusahaannya, namun rekanan perusahaannya. Dia akan mengantarkan aku ke perusahaan rekanannya itu untuk diaudisi dan tes, katanya. Tapi teman saya ikut sama saya ya Pak, kataku. Untungnya dia mengizinkan.
Limabelas menit kemudian kami berangkat. Pakai mobil si Pak Andi itu sih.
Sampai di perusahaan rekanan Pak Andi, kami dikenalkan dengan Pak Hendro. Pak Hendro dan teman-temannya yang lain yang akan meng-audisiku. Tapi sebelum audisi aku diberi penjelasan mengenai pekerjaan yang ditawarkan. Judulnya sih, bintang iklan..siapa yang enggak tertarik kan. Bintang iklan gitu lho.
Tapi apa yang terjadi? Gila aja..!! Emang sih jadi bintang iklan, tapi… Ah enggak mau ah… Tahu apa yang dibilang Pak Hendro itu? “Kami membutuhkan tiga wanita, untuk jadi bintang iklan produk bra.”
Twet twet twet tweeeet ….
“Dan Anda, sepertinya memenuhi syarat untuk itu. Tapi memang harus kita audisi terlebih dahulu,” lanjut Pak Hendro.
“Maaf Pak. Kalau untuk itu, saya tidak bersedia,” aku langsung memotong pembicaraannya. Ya iyalah.. masa’ jadi bintang iklan bra. Ih..enggak deh! ABCD. Aih Bho Capek Deh.
Eh, dia malah meneruskan obrolannya. Apa katanya? Dia bilang, nanti yang terlihat cuma sekwilda aja kok (alias sekitar wilayah dada). Lantas audisinya seperti apa? Masa’ aku disuruh bertelanjang dada depan mereka? Kurang ajar enggak tuh!