K E L E T A H

Paklong punya blog lah…

Arsip untuk November 14th, 2007

Fashion Show on the Street

Ditulis oleh paklonglah di/pada November 14, 2007

Para model wanita beraksi di jalanan Tebet, Jakarta. Seperti yang ditayangkan sebuah stasiun televisi swasta, Kamis (8/11), para model berlenggak-lenggok dan menari di jalan (pinggir jalan). Para pejalan kaki atau pengendara mengaku merasa terhibur dan senang dengan aksi itu. “Bagus banget. Terobosan baru nih,” kata seorang pengendara yang melintas. “Seru. Banyak yang ngeliatin,” ujar seorang model pula.

Apa pula tanggapan Anda?

Kebebasan berekspresi sepertinya menjadi landasan mereka melakukan itu. Namun apakah kebebasan berekspresi itu, lantas mematikan segalanya. Secara tak langsung, apa yang terjadi itu telah menyinggung pihak-pihak tertentu.

Untung saja mereka tak beraksi di Afganistan (semasa Taliban). Maka akan tercabik-cabiklah tubuh mulus para model wanita itu dihantam bom. Duaaarr!

Ditulis dalam Conteng-conteng Paklong | 2 Komentar »

KELETAH PAKLONG #3: Harga Minyak

Ditulis oleh paklonglah di/pada November 14, 2007

“Man…” tiak Paklong. “Man… Man…”

“Eh Paklong. Sama siapa, Paklong?” Lukman menyahut tiak Paklong.

“Paklong sorang (baca: seorang) saja. Engkau pula? Apa buat di kantor Pos ni?”

“Ini ha.. kirim lamaran kerja. Paklong?” tanya Lukman.

“Paklong kirim surat. Sebetulnya tak tepat dicakap surat, tapi imbauan. Iyalah, macam surat imbauan atau entahlah nama dia,”

“Kemana Paklong?”

“Ke Pak Susilo,”

“Pak Susilo siapa pula?”

“Siapa lagi.. Presiden engkau tu lah. Pemimpin 200 juta orang lebih,”

“Ah menyanyah Paklong ni,”

“Menyanyah macam mana pula. Betul… Ini engkau tengok resi dari kantor pos tadi,”

“Entah dibaca entah tidak, Paklong. Paklong buat imbauan hal apa?”

“Eh.. tak mungkin orang tua tu tak baca. Engkau ni macam lah tak tahu Paklong engkau. Paklong buat imbauan soal harga minyak,”

“Apa yang Paklong imbaukan?”

“Paklong tak habis fikir. Negara ni bukan tak punya minyak. Ni.. tanah engkau injak ni, di bawah tanah ini lah minyak tu.”

“Kalau pasal itu, saya tahu,”

“Tak.. engkau tak tahu. Sekarang Paklong tanya engkau. Di rumah engkau ada pokok kelapa kan?”

“Ada,”

“Umpamanya, harga jual sebiji buah kelapa sekarang naik sampai dua kali lipat. Engkau untung atau rugi?”

“Untung lah, Paklong,”

“Haa.. tahu pun engkau. Sekarang begini. Buah kelapa engkau tadi dah engkau jual. Misal engkau jual ke kedai Abak. Oleh Abak pula, kelapa tadi dibuat dia menjadi santan, misalnya. Dijual dia santan tu di kedai dia. Santan itu kemudian engkau beli. Dah…”

“Ha…”

“Sekarang Paklong tanya. Sebagai orang bersekolah tinggi, cuba engkau jawab Paklong yang tak bersekolah ni. Apa pasal Abak menaikkan harga jual santan dia?”

“Karena harga kelapa naik,”

“Ha.. bijak pun engkau. Sekarang, siapa yang bodoh?”

“Bodoh apa Paklong?”

“Engkau yang bodoh. Engkau punya kelapa. Tapi engkau jual kelapa tu bulat-bulat ke Abak. Abak jual balik kelapa tu ke engkau, walau pun bentuk dia dah lain. Tentulah harga dia dah berlipat-lipat naiknya. Betul tak cakap Paklong?”

“Jadi Paklong?”

“Jadi engkau mesti olah sendiri kelapa tu. Mika (kalian) kan ramai dalam rumah tu. Dari mulai menanam, memetik, habis tu engkau olah sendiri kelapa tu. Jangan main asal upah orang lain saja. Kalau engkau tak pandai, belajar. Upah orang lain untuk belajar, untuk engkau serap ilmunya. Tak punya alat, beli. Tak ada duit? Cari. Kalau tak dapat, apa boleh buat.. berhutang dulu. Paklong ingatkan engkau Man. Kalau pinjam duit berhutang, duit tu jangan buat engkau makan. Tapi buat engkau cari makan. Tahukan bezanya buat makan dengan buat cari makan? Kalau engkau buat makan apalagi berfoya-foya, alamat lah engkau.”

Ditulis dalam Keletah Paklong | Leave a Comment »

Dilema Parkir

Ditulis oleh paklonglah di/pada November 14, 2007

Tak hanya cerita persekongkolan calo dan samsat, ada kejadian lainnya. Parkir. Ya, ternyata kendaraan yang kita parkir di halaman kantor samsat “tidak gratis”.

Niat hati meninggalkan kantor b*ngsat samsat lakn*t siang itu. Ketika aku menyalakan mesin motor, ada seorang petugas parkir (mungkin –karena dia tidak berseragam petugas parkir) menghampiriku. “Ada parkir juga bos?” kataku. Dia senyam-senyum. Langsung saja aku tembak. “Kalau aku tak mau bayar?!” kataku dengan nada agak tinggi. “Enggak apa-apa,” jawabnya. “Ha..?!” aku sambar lagi dengan nada lebih tinggi. “Boleh-boleh..” jawabnya makin pelan. Dia pun pelan-pelan berlalu dari hadapanku, senyam-senyum tak jelas alias terhegeh-hegeh.

Saudara-saudara, ini jelas bukan soal uang limaratus perak. Kalau memang dia (petugas parkir itu) benar, tentu dia akan menjawab iya, bahwa memang dikenakan biaya parkir. Tak hanya di satu tempat saja. Kejadian serupa pernah aku alami di tempat-tempat lain. Karena memang petugas parkir yang menghampiriku, tidak berseragam petugas parkir.

Satu hal lagi, biasakanlah meminta tanda bukti (karcis) parkir. Pernah pula suatu ketika, petugas parkir (berseragam) tak mampu memberikan karcis parkir yang ku minta. Jelas, aku enggan membayarnya.

Selain itu, coba perhatikan betul-betul jika petugas parkir memberikan karcis parkirnya. Apakah karcis itu berasal dari buku (seperti kwitansi) karcis parkir yang baru disobeknya ketika itu? Atau dia mengambil dari saku/kantong pakainnya? Bisa jadi itu karcis parkir yang lama. Petugas parkir enggan memberikan karcis parkir, karena setorannya kepada dinas/instansi yang membawahinya berdasarkan karcis parkir yang habis.

Pernah pula aku mendengar, karcis parkir itu mereka beli dengan harga tertentu. Jadi dinas/instansi yang membawahi perparkiran menjual karcis-karcis parkir kepada petugas parkir.

Petugas parkir bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mencari makan (terserah dengan cara apapun). Makanya mereka bertebaran di mana-mana. Duit parkir langsung masuk ke kantong pribadi. Karena, di awal mereka telah membayar kepada dinas/instansi yang mengeluarkan karcis parkir. Makanya petugas parkir enggan memberikan karcis kepada pengendara. Bila karcis mereka habis, mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli karcis ke dinas/instansi tersebut.

Ditulis dalam Conteng-conteng Paklong | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Smart Ojek

Ditulis oleh paklonglah di/pada November 14, 2007

Ini satu lagi pengalaman penulis juga. Beberapa bulan lalu, penulis pun menjadi tukang ojek. Tapi bisa dibilang “smart ojek” (hehe.. narsis). Penulis beroperasi di jam-jam tertentu. Jam-jam dimana manusia banyak membutuhkan jasa ojek: pagi (berangkat kerja) dan sore (pulang kerja). Di pagi hari, penulis berusaha mencari penumpang yang mau berlangganan walaupun bayarannya tidak per bulan, tetap dibayar per hari. Jika si penumpang tidak berangkat kerja, atau berangkat tidak dengan ojek (misalnya hujan), si penumpang akan meng-sms penulis. Di sore hari pun demikian.

Dari statistik yang penulis kumpulkan, jumlah manusia yang membutuhkan jasa ojek berada pada puncaknya yaitu pada sore hari, ketika ramai orang pulang kerja. Sedangkan di pagi hari, penumpang yang membutuhkan jasa ojek lebih sedikit. Apalagi penumpang banyak naik ojek dari pangkalan, yang banyak bertebaran di hampir seluruh simpang jalan atau komplek perumahan.

Pangkalan ojek ini menjadi satu “tantangan” tersendiri. Hampir di setiap simpang ada pangkalan ojek. Jadinya, kans (chance) mendapatkan penumpang minim. Tapi yang namanya rejeki kan ada yang ngatur. Toh bagi kita-kita yang jadi “tukang ojek lepas” (yang tidak memiliki pangkalan), masih bisa mengais rejeki. Penulis pernah menerima bayaran 20 ribu rupiah untuk jasa yang seharusnya hanya 6 ribu rupiah. Di lain waktu, penulis pernah menerima bayaran 2 ribu rupiah untuk bayaran seharusnya 6 ribu rupiah (abis.. penumpangnya minta tolong, katanya cuma punya 2 ribu). Ya, begitulah kehidupan. Kita membantu orang, orang lain pula yang akan membantu kita. Rejeki akan datang dari jalan-jalan yang tidak terduga jika kita ikhlas mencarinya.

Kembali ke soal pangkalan ojek, bukan pangkalan militer meskipun sama-sama pangkalan (yang satu pangkalan mencari duit, yang satu pangkalan menghabiskan duit rakyat). Penulis pernah batal menarik penumpang, gara-gara berselisih dengan pengojek di pangkalan.

Ketika itu, penulis lewat di daerah pertokoan/ruko di Batam Centre. Ada calon penumpang tengah berjalan kaki. Setelah si calon penumpang dan penulis “deal,” penumpang pun naik ke motor. Eh, tiba-tiba datang seorang tukang ojek dan seorang tukang parkir. “Bla bla bla …” calon penumpang tadi akhirnya diangkut oleh si tukang ojek yang menjelma tiba-tiba itu. Rupanya tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara), ada pangkalan ojek. Dan sepertinya otomatis, penumpang di sekitar itu (entah radius berapa meter dari pangkalan) menjadi hak bagi tukang ojek di pangkalan. Penulis pun hanya bisa pasrah. Padahal kita-kita pengojek yang tak memiliki pangkalan ini lebih rajin. Kita berkeliling. Tapi yang dapat hak, justru pengojek yang “bermalas-malasan” di pangkalannya.

Bagi saudara-saudara yang tertarik dan mau ikut mangkal di satu pangkalan, kita mesti setor uang dulu. Istilahnya, beli pangkalan. Uang itu dimasukkan dalam kas pangkalan tersebut. Jumlah untuk “register” di pangkalan ojek beragam, sekitar 200 ribu-250 ribu rupiah. Setelah itu baru kita bisa ongkang-ongkang kaki di pangkalan (ongkang-ongkang kepala juga bisa), bisa berteduh, bisa bercengkerama, main kartu (main mainan sendiri bisa gak ya? Ups..what’s that), dan sebagainya dengan sesama member pangkalan (tapi sayangnya belum ada pangkalan ojek yang memiliki fasilitas hotspot, hehe..).

Satu lagi tips bagi Anda yang berminat menjadi tukang ojek: Jangan mengantar penumpang yang “tak jelas,” terutama pada malam hari. Penulis mendapat nasehat ini dari seorang ex-tukang ojek era 1990-an hingga awal 2000-an. Pria paruh baya yang sekarang bekerja sebagai supir taksi hotel di Batam itu berpesan, jangan menarik ojek terlalu malam-malam dan selalu hati-hati terhadap penumpang yang mencurigakan. “Di Batam sekarang udah banyak orang gak makan, Mas,” kata pria asli Flores itu kepada penulis –sebagai tukang ojek– yang mengantar dia pulang dari Nagoya ke Bengkong Kolam. Dia pun memberi bayaran yang lebih dari seharusnya. “Tengkiu sukron mercy gracia xie xie suwon nuhun terimakasih, Om..”

Ditulis dalam Conteng-conteng Paklong | Bertanda: , , , | 4 Komentar »