K E L E T A H

Paklong punya blog lah…

Bengkong: Kawasan Bebas Aturan Lalu Lintas

Ditulis oleh paklonglah di/pada November 14, 2007

Anda warga Batam pasti mengenal kawasan pemukiman padat Bengkong. Saya tidak tahu persis berapa jumlah penduduk yang bermukim di wilayah ini. Kalau dilihat dari ketinggian bukit di atas Bengkong Indah atau jalan Yos Sudarso (antara pelita-bengkong), terlihatlah padatnya kawasan ini.

Dulu daerah Bengkong termasuk ke dalam Kecamatan Batu Ampar. Sekarang, Bengkong memiliki kecamatannya sendiri. Kecamatan Bengkong meliputi seluruh wilayah Bengkong hingga sebagian Sei Panas. Entah ada berapa banyak daerah yang disebut Bengkong di kawasan ini. Ada Bengkong Indah, Bengkong Kolam, Bengkong Harapan I dan II, Bengkong Laut, Bengkong Mahkota, Bengkong Polisi, Bengkong Dalam, Bengkong PLTD, Bengkong Langit, Bengkong Baru, Bengkong Aljabar, dan Bengkong-Bengkong lainnya.

Dulu –hingga pertengahan bahkan akhir dekade 1990-an– sebagian wilayah Bengkong belum mendapat pasokan listrik PLN, maupun aliran air ATB. Pengalaman pribadi penulis, pernah tinggal di Bengkong Harapan I, hingga tahun 1993. Ketika itu, pasokan listrik di dapat dari “listrik desa,” alias berlangganan dari pemilik genset. Listrik dialiri melaui kabel-kabel biasa dan dicanggah dengan tiang-tiang kayu seadanya. Hidup-mati listriknya six to six, alias hidup pukul 6 sore dan mati pukul 6 pagi. Kebutuhan air dipenuhi dengan cara membeli dari mobil-mobil tangki air.

Bagaimana dengan arus atau kepadatan kendaraan bermotor saat itu? Lengang. Ya, itulah jawabannya. Kendaraan bermotor ketika itu sedikit jumlahnya. Justru paling banyak adalah kendaraan jenis mobil. “Carry,” jelas belum ada. Dulu, jarang-jarang kita melihat kendaraan jenis sepeda motor. Bisa dihitung dengan jari. Ojek pun sangat minim.

Mengenai minimnya ojek ini, berlaku hampir di semua kawasan di Batam hingga pertengahan dekade 1990-an. Penulis mengistilahkan, kalau dulu penumpang yang mencari-cari ojek. Namun sekarang tukang ojek yang sibuk-sibuk nyari penumpang. Asal ada orang berdiri di pinggir jalan, pasti disapa si om om ojek. “Ojek bang..” atau “Jek..” kira-kira begitu teriakan mereka. Atau ada yang keprok-keprok tangan. Pangkalan ojek pun tumbuh menjamur. Setiap ada simpang, pasti ada pangkalan. (Terkait dunia “Per-ojek-an,” ini sedikit pengalaman penulis).

Situasi keramaian Batam, khusunya Bengkong saat ini sungguh luar biasa. Listrik PLN dan air ATB sudah mengakses hampir ke semua kawasan di Bengkong. Begitu pun keadaan lalu lalang kendaraan dan manusia. Wilayah Bengkong menjadi alternatif baik, untuk para pendatang berdomisili.

Pemukiman tumbuh subur, karena adanya demand yang tinggi, terutama kos-kosan. Kawasan ini dekat dengan kota, maupun beberapa kawasan industri. Akses jalan dan transportasi ke tempat-tempat lain mudah. Taksi, angkutan umum Carry, ojek, dan sebagainya buaanyak, bahkan suangat buanyaak. Penuh. Sesak. Begitulah gambaran transportasi dan jalan di kawasan Bengkong. Penumpang tumpah ruah di pinggiran jalan pada jam-jam berangkat atau pulang kerja (pagi, sore, bahkan malam).

Maka tak ayal lagi, kalau kondisi lalu lintas kendaraan di Bengkong semraut. Bagi Anda yang benci dengan aturan ber-lalu lintas, mungkin akan menyenangi kawasan ini. Pasalnya, tak ada aturan lalu lintas yang berlaku di sini. Pengendara sepeda motor tak perlu pakai helm (tak berpakaian juga tidak apa-apa kalee..). Tak ada batasan kecepatan maksimum di jalanan Bengkong. Anda mau memecahkan rekor Valentino Rossi atau Casey Stoner, terserah. Kalau kecelakaan, tenaga medis siap membantu Anda (kalau masih hidup). Di sana ada Puskesmas, dokter praktik, atau rumahsakit bersalin juga ada.

Anak-anak dibawah usia (syarat memiliki SIM), bebas mengendarai kendaraan bermotor. Mungkin yang sudah bangkotan alias bangka juga banyak yang tak memiliki SIM. Atau yang punya SIM dapatnya dengan cara “nembak.” (soalnya kalau gak nembak, ga kena-kena kale..).

Dan yang paling terasa mengganggu adalah Carry. Jenis angkutan umum ini banyak jumlahnya di sini. Berebut dan berjubel mencari penumpang. Berhenti di mana saja seenak hatinya. Mau di tengah jalan atau di tengah persimpangan, bebas. Paling-paling hanya diklakson pengemudi lain.

Semua lampu merah atau traffic light di kawasan Bengkong tak berfungsi. Tak berfungsi disini memiliki dua arti. Pertama, secara fisikal memang traffic light-nya yang tidak berfungsi alias mati. Kedua, traffic light berfungsi (menyala) tapi tidak berfungsi di mata pengendara. Bahkan jangan sok pahlawan atau taat hukum berlalu lintas di sini. Di mana-mana di bumi ini, lampu merah menyala artinya berhenti, hijau artinya jalan. Tapi di Bengkong, merah artinya jalan, hijau artinya jalan, tak nyala juga artinya jalan. Bila Anda berhenti saat lampu merah menyala, Anda yang akan diklakson atau dimaki-maki orang.

Pesan saya, jangan takut melanggar aturan berlalu lintas di sini. Polisi tak ada kok. Bukan polisi dalam arti manusianya, tapi polisi dalam pengertian aparat penegak hukum. Lantas, tidak ada polisi bukan berarti yang berlaku adalah hukum rimba. Soalnya, tak ada tarzan di Bengkong. Tarzan adanya di Jakarta, sibuk shooting Srimulat.

 

Link yang terdapat dalam tulisan ini:

Smart Ojek

4 Tanggapan ke “Bengkong: Kawasan Bebas Aturan Lalu Lintas”

  1. werry desra berkata

    betul sekali, dah lima kali saya ke batam, ternyata daerah bengkong yang paling semrawut. sampai-sampai sopir taksi nga mau nganterin saya kesana.

  2. dhianofie berkata

    Dengar-dengar siCh…. Begitu Pak Long….

    Maaf…. Bukan nyasar, tapi emang sengaja bertamu.
    Pamit Pak loong…. Wassalam

  3. Lela ( Lubas ) berkata

    ya sih..Bengkong Sering Macet Tapi Bikin Kangen. krn saya 4 tahun tgl di Bengkong. I Love You Bengkong……

  4. ekii berkata

    hiduup bengkong

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>