
Menutup kepala (rambut dari kening ke atas) bagi kaum muslimin, sunat hukumnya. Sunat artinya, mendapatkan pahala jika melakukan, dan tidak berdosa bila meninggalkan.
Songkok, kopiah, peci adalah kata-kata yang digunakan untuk menyebut penutup kepala pria (muslimin). Saat ini begitu beragam bentuk, corak atau warnanya. Begitu juga bahannya. Pada umumnya songkok, kopiah, atau peci tersebut dikenakan oleh muslimin ketika menunai ibadah shalat, atau menghadiri acara-acara hajatan atau hari besar Islam. Namun sebagian pria muslim lainnya tetap mengenakannya pada berbagai kesempatan yang tidak berhubungan dengan seremonial atau acara keagamaan sekalipun.

Dahulu penggunaan songkok, kopiah, atau peci dapat melambangkan identitas si pemakai. Songkok, kopiah, atau peci berbentuk bulat dan berwarna putih menandakan si pemakai adalah seorang haji. Itu beberapa tahun lalu. Dan itu biasanya disebut kopiah/songkok haji. Sedangkan yang “non-haji” lazimnya mengenakan yang berwarna hitam, coklat, dan sebagainya (tidak berwarna putih).
Itu dahulu. Sekarang bagaimana? Sepertinya “aturan tidak tertulis” tersebut tidak berlaku lagi. Tapi entah pada daerah-daerah tertentu, apakah anggapan seperti itu masih ada?
Songkok, kopiah, atau peci berbentuk bulat dan berwarna putih ada dan dijual di mana-mana. Anak kecil sekalipun biasa mengenakan songkok, kopiah, atau peci bulat berwarna putih. Tak bisa dibedakan mana yang “haji” atau “non-haji.”
Ditinjau dari aturan agama, jelas tak ada pembedaan atau aturan resmi dalam hal “songkok menyongkok” ini. Yang belum haji, sah-sah saja mengenakan yang berwarna putih. Yang sudah ber-haji pun boleh-boleh saja mengenakan berwarna hitam, merah, coklat, hijau, dan sebagainya.
Satu hal yang “menggembirakan” ialah semakin banyak umat (muslimin) yang mengenakan songkok, kopiah, atau peci di berbagai kesempatan, tak hanya pada acara keagamaan atau peribadatan semata. Mungkin pemandangan ini sedikit atau jarang ditemukan pada dekade 1990-an, 1980-an, 1970-an, dan seterusnya. Lantas, apakah hal itu berkorelasi langsung dengan tingkat ketaqwaan umat? Wallahu’alam.
(foto: bruneiresources.com)