Capello: Kursus Bahasa Inggris Gitu Lho
Ditulis oleh paklonglah di/pada Januari 11, 2008
An interview with “Don” Fabio
Capello: Kursus Bahasa Inggris Gitu Lho
Betapa girangnya hatiku. Betapa tidak… aku berkesempatan berbincang-bincang dan mewawancarai seorang tokoh. Namanya menjadi perbualan belakangan ini, apalagi di Inggris. Dialah Fabio Capello. Pelatih yang ditunjuk oleh Federation Association (PSSI-nya Inggris), menjadi pelatih Steven Gerrard cs. Prestasi kepelatihannya tak diragukan lagi. Banyak pemain kelas dunia yang pernah dibesutnya ketika ia menjabat pelatih klub-klub top: AC Milan, AS Roma, Juventus, dan Real Madrid. Dan kini giliran negara yang mengklaim sebagai nenek moyangnya sepakbola, Inggris. Kiprahnya dinanti semua orang.
Dua hari setelah penunjukan Capello sebagai pelatih Inggris, seorang wanita meneleponku. Anna namanya. Dia mengabarkan bahwa Fabio Capello bersedia untuk diwawancarai. Sekretaris pelatih berkacamata itu memintaku mendatangi kantornya, untuk konfirmasi lebih lanjut.
Setelah konfirmasi dilakukan, aku diharuskan datang di waktu yang telah ditentukan. Tempatnya, di kantor sementara Fabio Capello. Iya, kantor sementara. “Di sini, hanya kantor sementara. Senin nanti FA akan menyediakan kantor khusus untuk kebutuhan Tuan Fabio,” kata Anna.
Di hari dan waktu yang telah ditentukan, aku mendatangi kantor yang berada di bagian barat kota London itu. Suasana ruangannya asri, berpendingin udara walaupun cuaca di luar “berpendingin udara” juga. Desain interiornya minimalis. Iya, mungkin minimalis. Aku bukan ahli atau pemerhati soal desain interior. Tapi menurut apa yang aku tahu, ruangan itu berkonsep minimalis. Entah siapa pencetus konsep minimalis itu sendiri, aku tidak tahu.
“Selamat pagi. Anda jurnalis dari Indonesia itu, bukan?” sapa Anna. Dia ingat rupaku. “Pagi, Anna. Anda ingat saya… saya jadi tersanjung,” kataku berbasa-basi.
Anna kemudian berdiri dari tempat duduknya. “Mari Tuan,” ia mempersilakan aku mengikutinya.
Rupanya tempat wawancara itu masih di ruangan yang sama, hanya dipisahkan sekat kayu persegi empat. Aku dipersilakannya duduk dan menunggu di sofa.
“Tuan Fabio sebentar lagi akan kemari. Anda silakan tunggu di sini. Buatlah diri Anda nyaman. Jika ada hal lain, saya ada di meja kerja saya.”
“Terimakasih, Anna. Saya sudah sangat nyaman berada di sini. Dengan senang hati, saya akan menunggu Tuan Fabio.”
Dari tempat posisi dudukku di sofa, aku lihat sisi wajah Anna. Sepertinya aku sudah familiar dengan wajah itu. Otak di kepalaku seketika sibuk bekerja. Anna kemudian berlalu dari hadapanku. Ia kembali ke meja kerjanya. Tak lama berselang, di pintu masuk ruangan itu, tampaklah sosok pria yang ku nanti. Ia melihat ke arahku. Melihat sorot matanya, aku menyimpulkan: dia orang yang cerdas. Kemudian dia berdiri di hadapan meja kerja Anna. Mungkin menanyakan jadwal atau hal lainnya kepada sekretarisnya itu. Aku melihat anggukan kepalanya, sejurus matanya kembali memandang ke arahku.
Dengan senyum ramah, Fabio Capello mendekatiku. Tubuh dan wajahnya segar. Aku berdiri, dan mengulurkan tangan. Dia pun mengulurkan tangan. Kami bersalaman. Dia mempersilakan aku duduk kembali. Tak lama, Anna mengantarkan dua gelas minuman ke meja.
“Apakah saya mengganggu waktu Anda, Tuan Fabio?” tanyaku dalam bahasa Inggris, memulai perbincangan, setelah berjabat tangan dan mengucap salam selamat pagi kepadanya.
“Oh, sama sekali tidak.”
“Perkenalkan… saya seorang jurnalis dari Indonesia. Seperti yang telah disampaikan oleh sekretaris Anda, bahwa pagi ini saya diberi sesi wawancara dengan Anda.”
“Oh iya, betul sekali.” Sejurus dia merubah posisi duduknya: bersandar di sofa. “Apakah sekretaris saya juga telah menyampaikan sesuatu yang lain kepada Anda?”
“Seingat saya tidak, Tuan Fabio. Adakah yang belum saya ketahui?” Aku mencoba mengingat-ingat, barangkali ada hal yang luput dari perhatianku. Apakah memang Anna telah menyampaikan sesuatu?
“Sebenarnya tidak penting. Saya sendiri akan menyampaikan hal itu kepada Anda,” katanya lagi.
“Apakah itu, Tuan Fabio? Saya siap mendengarnya.”
“Saya rasa Anda sudah mengetahuinya. Iya, seperti pemberitaan media massa selama ini, khususnya setelah saya ditunjuk FA untuk menukangi The Three Lions.
“Saya sudah mengetahuinya?” Apa gerangan itu? Aku tahu? Banyak diberitakan? Entahlah…
“Pasti.” Sepertinya dia ingin aku menebak. Namun memang aku tak mampu mengira-ngira. Aku terlalu fokus mempersiapkan wawancara ini. Pertama kali aku mewawancarai bintang sepakbola dunia -dalam hal ini seorang pelatih.
“Dan itu ialah …” Aku menyerah.
Sembari membentang kedua telapak tangannya, sedikit mengangkat bahu, dia bilang: “Bahasa Inggrisku sangat jelek.”
Grrr … … …
Namun gelakku agak tertahan. Aku takut dia menganggap aku menertawainya. Segera aku lakukan sesuatu untuk menyembunyikan itu. Aku letakkan notes-ku ke meja. Aku menunjuk ke arah minuman di meja. Dia mempersilakan aku minum. Dia pun minum.
“Jika Anda tidak keberatan, saya bisa mewawancarai Anda dalam bahasa Italia, Tuan Fabio,” kataku kemudian. “Bolehkah itu?” tanyaku dalam bahasa Italia.
“Oh… saya sangat senang mendengarnya,” balasnya dalam bahasa Italia pula. “Anda bisa berbahasa Italia. Tentu saja, kita bisa melakukan itu. Andai saja semua pemain Inggris seperti Anda.”
“Seperti saya?”
“Iya, seperti Anda… bisa berbahasa Italia.”
Grrr … … ha ha ha …
Kali ini, tawaku lebih lepas dibandingkan yang pertama tadi. Aku segera menduga: Fabio Capello seorang yang humoris.
“Tuan Capello, bolehkan saya memanggil Anda dengan sebutan Don?”
“Oh, jangan. Tidak perlu lakukan itu. Panggil saja saya Fabio atau Capello. Tidak dengan Don,” pintanya.
“Kenapa?”
“Nenek saya akan marah besar. Ha ha ha …”
Dugaanku sepertinya betul. Dia seorang yang humoris.
“Tidak, jangan pakai Don,” dia melanjutkan. “Saya akan memberitahu Anda, kapan Anda boleh memanggil saya Don. Nanti… nanti jika memang sudah masanya.”
Diam sesaat.
“Dan saya minta, tolong jangan dipublikasikan apa pun obrolan kita tadi,” terusnya, “terutama bagian Andai semua pemain Inggris seperti Anda dan Don itu. Ha ha ha …”
“Baiklah, baiklah… akan saya lakukan itu, Tuan Fabio. Bagaimana kalau kita mulai saja wawancaranya -dalam bahasa Italia tentunya?”
“Iya, dengan senang hati.”
***
Setelah bertanya perihal penunjukan dirinya sebagai pelatih tim nasional Inggris, aku mencoba menyinggung pengetahuan atau mungkin perhatiannya terhadap per-sepakbola-an Indonesia:
“Apa yang Anda ketahui tentang tim nasional Indonesia? Bagaimana soal kualitasnya? Apakah tim sekelas Indonesia mempunyai kans untuk dapat bertanding dan berbicara di level yang lebih tinggi, misalnya Piala Dunia? Apakah pemain-pemain Indonesia juga bisa bermain di klub-klub Eropa, atau sebaliknya? Bagaimana Anda memandang ini?”
“Saya tidak mengetahui banyak tentang per-sepakbola-an Indonesia. Saya tahu, Indonesia memiliki potensi. Kita semua tahu, Indonesia termasuk negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Begitu pula dengan keragaman penduduk dan budayanya. Indonesia memiliki iklim tropis. Sangat mendukung untuk pembinaan dan pelaksanaan liga sepakbola. Karena sepanjang tahun tidak ada kendala cuaca. Seperti halnya Brasil, yang juga adalah negara tropis. Memang, kita tahu juga bahwa Indonesia termasuk negara sedang berkembang. Fasilitas dan infrastruktur dalam sepakbola, mutlak diperlukan. Ini perlu perhatian dari otoritas atau pemerintahnya. Tapi ingin saya katakan, sepakbola bukan milik negara maju saja. Anda lihat saja Brasil dan beberapa negara Amerika Latin lainnya, bahkan negara-negara Afrika yang memiliki keterbelakangan dibanding negara Anda misalnya. Namun mereka berhasil masuk ke Piala Dunia, dan banyak pemain-pemain mereka bermain di klub-klub Eropa. Saya percaya, Indonesia juga bisa melakukannya. Dan suatu saat, kita akan melihat Indonesia berlaga di pentas dunia, dan pemain-pemainnya di klub-klub Eropa. Dan saya pribadi membayangkan, suatu saat pula liga-liga sepakbola Eropa dan Afrika atau Asia berada pada tingkatan yang sama, memiliki kualitas yang sama. Maka, Anda bisa bayangkan, klub-klub di Eropa, Asia, atau Afrika akan memiliki kesempatan yang sama dalam merekrut pemain yang berkualitas. Dan ini suatu sinergi yang menarik, dimana sepakbola tidak lagi mengenal batas negara bahkan tidak juga benua. Dan jika telah sampai pada tahap itu, betapa menariknya sepakbola. Sepakbola menjadi bahasa universal yang dipahami dan berlaku di seluruh dunia, seperti halnya tertawa atau menangis.”
“Tuan Fabio… pertanyaan selanjutnya terkait dengan pelatih asing. Apakah negara dengan kualitas sepakbola seperti Indonesia harus mengontrak pelatih asing untuk mendongkrak prestasinya? Seperti yang kita ketahui, negara-negara seperti China, Jepang, bahkan Rusia berhasil masuk Piala Dunia dengan pelatih asingnya. Bahkan kini Anda sebagai pelatih asing bagi tim Inggris. Bagaimana pendapat Anda, Tuan Fabio?”
“Saya sangat beruntung.”
“Anda beruntung… maksudnya?”
“Iya, saya sangat beruntung. Beruntung sekali. Ketika saya belum terikat kontrak untuk melatih klub atau negara manapun, saya ketahui dari pemberitaan media, negara Anda -Indonesia- juga sedang tidak memiliki pelatih tim nasional. Dan asosiasi sepakbola Indonesia (baca: PSSI) telah memecat seorang pelatih asing, Ivan Kolev, karena kegagalannya mendongkrak prestasi tim Indonesia menjadi lebih baik.”
“Lantas di mana beruntung yang Anda maksudkan tadi, Tuan Fabio?”
“Ya, Anda tahu bahwa saya menduduki kursi kepelatihan Inggris bukan tidak mendapat tantangan. Banyak tantangan yang tengah dan akan saya hadapi. Kontroversial akan selalu ada. Anda mengetahui itu. Semua media bicara soal itu. Nah, di sinilah betapa beruntungnya saya. Sekali lagi… perlu Anda garis bawahi: sangat beruntung. Saya sangat beruntung tidak ditunjuk menjadi pelatih tim nasional Indonesia.”
“Jika Anda diminta menjadi pelatih tim Indonesia, apa yang memangnya akan terjadi pada Anda, Tuan Fabio?”
“Akan lebih banyak dan lebih berat lagi tantangan yang akan saya hadapi.”
“Bisa Anda sebutkan lebih terperinci, Tuan Fabio?”
“Pertama, saya sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia. Bahasa Inggris yang telah mendunia saja, saya masih perlu waktu hingga dua bulan ke depan untuk lebih fasih. Sekali lagi: untuk lebih fasih. Bukan saya tidak bisa berbahasa Inggris, tapi bahasa Inggris saya jelek. Bagaimana jika asosiasi sepakbola Indonesia menunjuk saya? Saya yakin, akan butuh waktu yang lebih lama.”
“Kedua, Tuan Fabio?”
“Kedua, Anda tahu Hooligans kan? Mereka terkenal dengan fanatismenya, dan terkadang berujung kebrutalan. Para hooligan tim nasional Inggris itu, jelas adalah mereka-mereka yang juga suporter klub-klub di Inggris. Mereka selalu hadir di setiap pertandingan klub mereka masing-masing, di pertengahan atau ujung minggu. Sebagai pelatih tim nasional, saya perlu memantau perkembangan para pemain. Untuk itu, saya juga harus menonton langsung pertandingan-pertandingan di liga Inggris. Nah, itulah yang saya khawatirkan kalau saya menjadi pelatih tim Indonesia. Akan menghabiskan waktu saya lebih banyak untuk menyaksikan setiap pertandingan. Hampir di setiap pertandingan selalu terjadi keributan, bahkan perkelahian di lapangan hijau. Jelas itu akan memperpanjang waktu jalannya suatu pertandingan. Di tambah lagi para suporter Indonesia, yang ternyata bahkan lebih brutal, terutama di setiap pertandingan liga. Tak jarang, pertandingan harus tertunda, dijadwal ulang, atau main tanpa penonton. Ini kan konyol namanya. Main tanpa penonton, tidak akan memaksimalkan penampilan para pemain. Anda juga tahu ungkapan yang menyebutkan bahwa penonton adalah pemain ke-duabelas. Selain itu, keselamatan saya di tribun penonton juga tidak terjamin. Ini, lihat ini. Saya memakai kacamata. Bagaimana kalau sewaktu saya menonton pertandingan, kacamata saya pecah akibat lemparan penonton? Anda bersedia menggantinya?”
“Wah… tentu saja saya keberatan mengganti kacamata Anda, Tuan Fabio. Tidak akan cukup penghasilan saya sebagai jurnalis -yang jujur- membeli kacamata seperti itu.”
Grrr … … ha ha ha …
“Kendala selanjutnya, Tuan Fabio?”
“Maaf… sebentar ya.” Fabio Capello menoleh ke arah jam dinding. “Anna, berapa lama lagi waktu saya untuk wawancara ini?” dia bertanya kepada sekretarisnya.
“Iya, Tuan Fabio. Jadwal Anda untuk itu sampai dengan pukul 10.55, Tuan,” jawab Anna.
“Terimakasih, Anna. Iya, kita lanjutkan…” ujar Fabio kembali kepadaku.
“Kendala ketiga, Tuan Fabio…” kataku, coba mengingatkan.
“Kendala ketiga jika saya menjadi pelatih tim sepakbola Indonesia… Ini terkait dengan para pemain sepakbola. Kita tahu, para pemain Inggris adalah pemain-pemain sepakbola top -kelas dunia. Hasil dari liga sepakbola yang mapan, pembinaan yang berkesinambungan, fasilitas latihan moderen di klub-klub, dukungan penuh dari otoritas setempat, dan sebagainya. Mengapa tim nasional Inggris tidak sukses atau belum sukses atau belum mengulang sukses yang pernah diraihnya? Sebenarnya, yang dibutuhkan adalah pelatih yang bisa meramu tim. Soalnya, para pemain Inggris memang berkualitas. Kerja seorang pelatih hanya bagaimana meramu tim tersebut. Dan untuk itulah seorang pelatih dibayar. Dan di sepakbola moderen sekarang ini, memang tugas pelatih, terutama pelatih tim nasional, pada prinsipnya adalah membentuk atau meramu tim itu. Bukan lagi mengajari mereka bermain sepakbola. Mereka telah membekali dirinya dengan kemampuan sepakbola yang didapat sejak dini dari sekolah-sekolah atau klub-klub sepakbola. Kembali ke persoalan awal -terkait kendala yang saya hadapi jika menjadi pelatih tim nasional Indonesia. Di Indonesia, kerja seorang pelatih akan bertambah. Saya harus mengajari banyak hal ke para pemain Indonesia, bahkan teknik-teknik dasar dalam sepakbola. Selain itu, mental juga menjadi faktor penting dalam sepakbola. Bagaimana mental para pemain Indonesia? Saya yakin, mental pemain Indonesia cukup bagus. Memiliki determinasi yang kuat, dan bahkan tak segan-segan main tangan di lapangan hijau, selain main kaki tentunya. Indonesia butuh pelatih yang tepat. Itu kuncinya. Sekali lagi: pelatih yang tepat. Dan saya secara pribadi mendoakan, semoga Indonesia menemukan pelatih yang saya maksudkan. Dan saya bukan orang yang pas untuk itu. Beruntung saya lebih dulu ditunjuk menjadi pelatih Inggris. Sehingga memang belum sempat terjadi pembicaraan antara pihak Indonesia dengan saya. Ketika saya dan FA belum ada pembicaraan, agen saya ketika itu pernah memberikan opsi beberapa tim nasional yang membutuhkan pelatih. Inggris dan Indonesia adalah diantaranya. Dan saya akhirnya memilih Inggris.”
Pukul 10.54
“… waktu kita telah habis. Lain kali mungkin bisa kita lanjutkan. Silakan Anda menghubungi sekretaris saya, untuk mengatur jadwal. Sangat senang bisa berbincang dengan Anda.”
“Saya sangat tersanjung dengan Anda, Tuan Fabio. Pasti. Saya sangat senang bisa melakukan wawancara ini. Tapi saya betul-betul minta maaf, Tuan. Bisa Tuan sebutkan satu lagi kendala lainnya, jika Tuan menjadi pelatih Indonesia? Iya, jika memang Tuan Fabio bersedia. Saya akan sangat menghargai dan berterimakasih untuk itu, dan wawancara menyenangkan pagi ini. Wawancara yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya, Tuan.”
“Saya juga sangat senang melakukan wawancara ini. Anda jauh dari belahan dunia sana, yang memiliki bahasa dan budaya yang berbeda dengan saya, mewawancarai saya dalam bahasa saya -Italia. Saya sangat terkesan. Dan menjawab pertanyaan Anda tadi, kendala ke …”
“Ke-empat, Tuan.”
“Iya, ke-empat. Yaitu… saya tidak bisa dan tidak akan mau bekerjasama dengan orang yang berada dalam bui.”
“Maaf, Tuan…”
“Anda tahu… saya tahu… presiden FIFA tahu… dunia tahu… bahwa ketua umum asosiasi sepakbola negara Anda mendekam di dalam penjara. Saya tidak akan melakukan perundingan atau pembicaraan dalam jeruji, apalagi main bola.”
Grrr … … ha ha ha …
“Saya belum bisa bicara panjang soal itu, mungkin lain kali,” lanjutnya. “Dan sekali lagi terimakasih atas wawancaranya.”
“Baiklah, Tuan Fabio. Terimakasih banyak atas jawaban-jawabannya dan memberi kesempatan dan waktunya kepada saya melakukan wawancara ini.”
Tanpa dikomandoi, kami berdua berangkat dari duduk: berdiri. Ku letak pulpen dan notes wawancaraku ke atas meja. Aku berjalan dua langkah mendekatinya. “Sekali lagi terimakasih banyak, Tuan Fabio,” sambil ku ulurkan tangan. Bersalaman.
“Maaf, Tuan… jadwal kegiatan Tuan setelah ini, apakah akan melakukan wawancara dengan wartawan lain atau pergi ke kamp latihan?” Sepertinya lancang sekali aku bertanyakan hal itu kepadanya.
Namun dia tidak menampakkan wajah yang tidak setuju dengan kelakuanku yang baru saja. Bahkan ia tersenyum dan menjawab tanyaku: “Oh, tidak. Saya tidak ada wawancara lainnya. Saya juga tidak ke kamp latihan. Saya hanya akan… kursus bahasa Inggris gitu lho…”
***
Setelah Fabio Capello meninggalkan ruangan wawancara itu, aku kembali menemui sekretarisnya. Dengan sopan, Anna mempersilakan aku duduk di kursi rotan yang ada dihadapan meja kerjanya. Terbesit tanya dalam hati: jangan-jangan kursi rotan ini asli buatan perajin Indonesia.
Ku gapai satu kotak yang terbungkus di dalam tas ranselku. Anna, yang di jari tangannya masih melekat sebuah pulpen itu, memandang ke arah ranselku. Entah mungkin dia curiga alias sya’ wa sangka, jangan-jangan aku bawa bom?!! Oh tidak, Anna… malahan aku akan memberimu hadiah.
“Anna, terimakasih atas kebaikanmu… telah memberiku waktu untuk mewawancarai Tuan Fabio Capello.” Sembari menyorong ke arah Anna, bingkisan yang dibungkus dengan kertas kado bercorak batik dan berisi ukiran itu, “Ini, sedikit hadiah dariku… sebagai ucapan terimakasih. Ini mungkin bukan sesuatu yang berarti bagimu, tapi ini hasil kerajinan-tangan orang Indonesia. Aku harap kau dapat menerimanya.”
“Oh Tuhan… Anda lah yang sesungguhnya baik sekali. Aku tidak melakukan apa-apa terhadap Anda. Aku hanya menjalankan tugasku,” kata Anna sumringah. “Tentu. Aku sangat senang menerima pemberian Anda ini.”
Melihat pembicaraan kami makin santai, aku memberanikan diri melanjutkan obrolan.
“Oh iya, Anna. Ngomong-ngomong… melihat mata dan lesung di pipimu, aku sepertinya sudah kenal lama dengan itu. Sangat familiar. Boleh aku ajukan satu pertanyaan? Mungkin sedikit pribadi.”
“Hanya pertanyaan kan? Aku tidak akan keberatan. Lakukanlah,” dia mencoba berkilah.
“Sudah tentu aku butuh jawabannya.”
“Dan pertanyaannya ialah…” sambarnya.
“Apa hubunganmu dengan Katie Holmes? Apakah dia saudara perempuanmu, Anna?”
“Kamu bukan yang pertama menanyakan hal itu. Dan jawabannya tetap tidak. Jika kamu masih penasaran, ada baiknya kamu tanyakan langsung kepada Katie Holmes.” Anna makin terlihat santai. Tertawa lepas dia.
“Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Si Tom akan marah besar jika aku melakukannya.”
Grrr … … …
“Anna, maukah kau aturkan jadwalku jika nanti aku ingin mewawancarai bos-mu lagi?” tanyaku pada Anna.
“Tentu. Tentu saja.”
“Tapi nanti tidak akan ada lagi hadiah dariku, Anna.” gumamku dalam hati.
A-ha » Capello: Kursus Bahasa Inggris Gitu Lho berkata
[...] Here’s another interesting post I read today by paklonglah [...]
panglima galang berkata
salamelekom… pa kabar pak long???
lama tak bersua di alam maya..lepas baca tulisan ni, rase macam tak pecaye je?? memang paklong dak sampai ke itali ke?? aii mak jah, hebat nian pak long.. boleh bagi-bagi rahsie tak??
paklonglah berkata
wa’alaikomsalam, panglima..
paklong sehat..panglima cam mana?
paklong pun jarang online skrg ni.. biasalah, sibuk tak tentu hehe…
bercakap pasal fabio capello.. itu keletah paklong sajalah..pandai-pandai paklong saja.. paklong tak kemana2 pun.. bahasa italia pun paklong tak pandai hehe..
Ersis W. Abbas berkata
Menikmati makna saja ya, makasih