Category: musik


Inilah satu diantara banyak faktanya: karya seni tidak mendapatkan apresiasi yang seharusnya.

Kita semua mungkin sering mendengarkan ring-back tone (nada sambung) saat kita menghubungi ponsel teman atau keluarga. Pilihan lagu/nada yang bisa di-setting untuk mengaktifkan layanan tersebut sangat banyak dan beragam. Masing-masing operator pula memiliki standar tersendiri biaya aktivasi untuk mengganti nada tuut…tuut…tuuut., menjadi sebuah lagu.

Tapi tahukah Anda???

Ternyata si pencipta lagu mendapatkan bagian honor paling kecil dari biaya yang dikenakan terhadap layanan tersebut. Paling besar? Ya, tentu operatornya.

Ini salah satu artikel yang memuat persoalan itu:

Pentingkah CD dan kaset album lagu laris manis? Atau lebih penting ring-back tone (RBT) laris? Kalau buat si artis mah dua-duanya tentu akan lebih baik. Tapi kini, barometer takaran finansial bisa saja dari RBT karena tren konsumen cenderung beralih ke RBT.

…… …… ….

Sekadar info, lagu “Tak Gendong” yang dilantunkan Mbah Surip hingga kini mampu menghasilkan hingga Rp 9 miliar. Imbasnya, pria dengan rambut gimbal dengan style Jamaika ala Bob Marley pun mendapatkan royalti Rp 4,5 miliar. “Rezeki Mbah banyak juga ya, ha-ha-ha…,” celetuk Si Mbah sambil tertawa dengan gaya khasnya.

Sama halnya dengan band Wali saat RBT-nya laris manis di pasar. Secara spontan, sang eksekutif produser memberikan hadiah spesial umroh untuk keempat anggota personel band lokal ini. “ring-back tone Wali di-download sampai dengan 4 jutaan,” ujar Faank, sang vokalis.

Operator serakah

Namun, apa yang diterima operator selaku penyedia layanan? Tentu saja untung yang diperoleh angkanya lebih gila. Untuk Telkomsel, seperti diutarakan Dharma Oratmangun selaku Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penataan Musik Rekaman Indonesia, dengan biaya pengunduhan Rp 9.000, sebesar Rp 5.750 (63,8 persen) dananya ditarik ke Telkomsel. Sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta lagu Rp 406 (4,51 persen), label + CP (content provider) sebesar Rp 2.438 (27,08 persen), dan artis kebagian Rp 406 (4,51 persen).

Sementara itu, XL, dengan biaya bulanan Rp 5.000, membagi hasil keuntungan untuk XL sebesar Rp 4.000 (80 persen), kemudian Rp 1.000 sisanya dibagi penerbit dan pencipta Rp 125 (1,25 persen), label + CP sebesar Rp 750 (15 persen), serta artis mendapatkan Rp 125 (2,5 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 63 (1,25 persen).

Adapun Mobile 8 dengan biaya Rp 8.000, pembagiannya Rp 5.130 (64,13 persen), dan untuk sisanya dibagi ke penerbit dan pencipta Rp 359 (4,48 persen), label + CP sebesar Rp 2.153 (26,9 persen), dan untuk artis mendapatkan Rp 359 (4,48 persen). Pencipta lagu dalam hal ini hanya mendapat Rp 179 (2,24 persen).

Bila dirunut secara gamblang, pihak pencipta lagu yang paling kecil mendapat jatah pembagian keuntungan. Hanya di bawah Rp 500! Bisa dibayangkan, betapa ironisnya nasib seorang pencipta lagu selaku konseptor awal dari sebuah hasil karya seni yang bisa dinikmati oleh banyak orang. (PRIYO/TABLOID SINYAL)

sumber: kompas.com

Enggak dan Tak Slank

slank.jpg

 

Ku tak bisa jauh

Jauh dari mu

 

Band satu ini sudah dikenal di seluruh pelosok negeri. Kiprah mereka di blantika musik Indonesia tidak diragukan lagi. Entah berapa juta jumlah slankers di Indonesia ini. Belum lagi di luar negeri, termasuk diantaranya para TKI.

Tema lagu yang diusung Slank pun beragam: cinta, sosial, politik, budaya, dan sebagainya. Lirik lagu Slank dikenal sederhana, mudah dicerna, gampang diucapkan. Bahasanya? Bahasa anak muda, bahasa gaul, dan tidak sastrawi berat.

Tapi tahukah Anda? Bahwa ada satu kata yang tidak pernah diucapkan dalam lirik lagu-lagu Slank. Bukan kata-kata sastra, atau kata-kata aneh lainnya. Ini satu kata yang lazim diucapkan sehari-hari. Tapi mungkin tidak bagi Slank (atau mungkin bagi Anda). Setelah hampir duapuluh 20 tahun, setelah ratusan lagu tercipta, akhirnya satu kata itu diucapkan dalam pelafalan lirik lagu Slank.

Kata “tak” hadir pertama kali dalam lirik lagu Slank: pada lagu Ku Tak Bisa. Sebelum ini, kata “tak” tidak pernah dilafalkan dalam lirik lagu Slank, melainkan kata “enggak.” Benarkah itu?

Belakangan saya memang tidak se-sreg dulu terhadap Slank. Mungkin saya merasa, Slank sudah tidak se-idealis dulu. Bukan tidak idealis sama sekali, tapi kadar komersialis-nya lebih dibanding dulu. Dari segi musikalisasi pun demikian. Produk musiknya tak “se-lepas” dulu.

Karena saya pendengar dan penikmat musik Slank –sering melantukan lagu-lagunya- dari dulu hingga kini, maka saya tahu, kata “tak” pertama kali diucapkan dalam lirik lagu Slank adalah pada lagu Ku Tak Bisa. Mungkin Anda para Slankers ada yang tahu pasti kebenaran hal itu. Atau kalau Anda sempat, tolong konfirmasi ke Slank aja langsung.

Saya memang tidak pernah mengetahui persis kebenaran hal itu. Slank orbit di blantika musik Indonesia ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar (mungkin kelas 2 atau 3). Hingga saat ini pun saya sering mendengarkan dan mendendangkan lagu-lagu Slank. Ketika duduk dibangku SMA, sebagai “anak band,” kami juga memainkan lagu-lagu Slank. Bahkan semasa kuliah di Bandung, aku (bersama bandku, Pajifa) masih memainkan lagu Slank. Dan.. lagu Ku Tak Bisa menjadi satu-satunya lagu Slank yang dibawa manggung. Karena Pajifa memang tidak memainkan lagu-lagu Indonesia. Lantas bagaimana ceritanya lagu Ku Tak Bisa masuk dalam songlist Pajifa.

Ku Tak Bisa ketika itu sungguh membumi. Pertama kali Pajifa membawa Ku Tak Bisa pada acara kampus di suatu pub & café di Jalan Asia-Afrika, Bandung. Tanggapan audiens luar biasa. Semua bernyanyi, karena memang liriknya simpel, mudah lengket di otak.

Kali kedua Pajifa membawa Ku Tak Bisa, seingatku di Garut. Ketika itu ada festival band pelajar se-Kabupaten Garut. Pajifa –dan PHB (Pemuda Harapan Bangsa)- diundang sebagai guest star. Setelah kami memainkan beberapa lagu, penonton (pelajar SMA dan SMP) tampaknya tak bereaksi seperti yang diharapkan. Aku berinisiatif memainkan Ku Tak Bisa. Ketika lagu sebelumnya habis, langsung ku sambar dengan intro Ku Tak Bisa –aku keyboardist. Vokalis melirik ke arahku. Aku tahu, dia bertanya lagu apa yang akan dimainkan, karena intro Ku Tak Bisa sama dengan intro Look What You Have Done (Jet). Intro terpaksa ku perpanjang –improvise, karena vokalis baru ngeh bahwa lagu tersebut adalah Ku Tak Bisa. Dan pula, intro Ku Tak Bisa memang pendek. Akhirnya audien hanyut oleh Ku Tak Bisa, dan dapat kami pegang. Selanjutnya audien dibawa ke arah yang kami inginkan. Ku Tak Bisa kemudian dimasukkan dalam songlist Pajifa pada beberapa kesempatan manggung setelah itu.

(Foto: www.slank.com)

Kemapanan John Lennon

 john-lennon.jpg

John Lennon: “Kemapanan membuatmu gusar untuk melawan.”

FOLK DANCE FORM: Zapin

The zapin, a traditional dance accompanied by music and singing, uses the voice, the gambus, violin, harmonium and accordian. Two types of drums are also used, the marwas and the dok, both double headed and cylindrical with the dok having a much longer body than the marwas. The zapin originated from the Middle East and is preserved in Malaysia in both its original form, called Zapin Arab and as Zapin Melayu which was adapted through the ages by the local Malay community.

Zapin music adheres to a fairly structured form.
1. opening section, called taksim: played by solo gambus
2. traditional gambus melody accompanied by rhythm on gambus and drums
3. vocal melody in A B C structure alternating with kopak drum pattern, alternating until the end of the piece
4. coda section, in the form of an extended kopak until the final cadence known as wainab or tahtim.

Notated Example: Zapin Drum Patterns

zapin-drum-patern-example.gif

(Sumber: Mohd. Anis. 1993. http://www.musicmall-asia.com/..)

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.