Tak hanya cerita persekongkolan calo dan samsat, ada kejadian lainnya. Parkir. Ya, ternyata kendaraan yang kita parkir di halaman kantor samsat “tidak gratis”.

Niat hati meninggalkan kantor b*ngsat samsat lakn*t siang itu. Ketika aku menyalakan mesin motor, ada seorang petugas parkir (mungkin –karena dia tidak berseragam petugas parkir) menghampiriku. “Ada parkir juga bos?” kataku. Dia senyam-senyum. Langsung saja aku tembak. “Kalau aku tak mau bayar?!” kataku dengan nada agak tinggi. “Enggak apa-apa,” jawabnya. “Ha..?!” aku sambar lagi dengan nada lebih tinggi. “Boleh-boleh..” jawabnya makin pelan. Dia pun pelan-pelan berlalu dari hadapanku, senyam-senyum tak jelas alias terhegeh-hegeh.

Saudara-saudara, ini jelas bukan soal uang limaratus perak. Kalau memang dia (petugas parkir itu) benar, tentu dia akan menjawab iya, bahwa memang dikenakan biaya parkir. Tak hanya di satu tempat saja. Kejadian serupa pernah aku alami di tempat-tempat lain. Karena memang petugas parkir yang menghampiriku, tidak berseragam petugas parkir.

Satu hal lagi, biasakanlah meminta tanda bukti (karcis) parkir. Pernah pula suatu ketika, petugas parkir (berseragam) tak mampu memberikan karcis parkir yang ku minta. Jelas, aku enggan membayarnya.

Selain itu, coba perhatikan betul-betul jika petugas parkir memberikan karcis parkirnya. Apakah karcis itu berasal dari buku (seperti kwitansi) karcis parkir yang baru disobeknya ketika itu? Atau dia mengambil dari saku/kantong pakainnya? Bisa jadi itu karcis parkir yang lama. Petugas parkir enggan memberikan karcis parkir, karena setorannya kepada dinas/instansi yang membawahinya berdasarkan karcis parkir yang habis.

Pernah pula aku mendengar, karcis parkir itu mereka beli dengan harga tertentu. Jadi dinas/instansi yang membawahi perparkiran menjual karcis-karcis parkir kepada petugas parkir.

Petugas parkir bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mencari makan (terserah dengan cara apapun). Makanya mereka bertebaran di mana-mana. Duit parkir langsung masuk ke kantong pribadi. Karena, di awal mereka telah membayar kepada dinas/instansi yang mengeluarkan karcis parkir. Makanya petugas parkir enggan memberikan karcis kepada pengendara. Bila karcis mereka habis, mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli karcis ke dinas/instansi tersebut.