Tag Archive: curhat


Pergilah

Aku tengah berehat ketika itu

Nak pulihkan kedayaan yang memang terhat

Sebilah beluti kau humban ke arah rumahku

Pinggan belangaku pun berkecai kau lumat

 

Entah apa pasal perangaimu tak menentu

Sepertinya ada hajat di hatimu

Nak tebas leherku

Nak tembuk perutku

Nak koyak dadaku

 

Aku tak dapat tangkap apa matlamat yang hendak kau sampaikan

Namun aku tetap bersantun menjaga resam

Meski tergamak kau buat mukaku lebam

Meski tak teragak kau buat sampanku karam

Meski kau tahu sedikit banyak keperkasaanku di masa silam

Meski kau tahu aku belum lagi khatam

 

Kau tahu itu

Tapi kau tetap mengarut

Sepanjang pagi dan petang kau bersungut

Katamu aku tak patut

 

Bila kepalaku sedikit tegak

Kau kata aku degil

Telingaku pula kau sentil

 

Bila aku bertentang mata

Tak lengah aku kau sengat

Tanpa jeda mulutku kau sumbat

 

Aku dah sya’

Kau dan aku memang ada sempadan

Kau dan aku memang tak sepadan

 

Apa pun saji yang kau semah

Aku akan tetap resah

Apa pun benda yang kau tempah

Aku akan tetap gundah

 

Sudahlah

Kau tak tahu madah

Kau tak tahu maruah

 

Pergilah

Jangan sampai aku berludah

Dilema Parkir

Tak hanya cerita persekongkolan calo dan samsat, ada kejadian lainnya. Parkir. Ya, ternyata kendaraan yang kita parkir di halaman kantor samsat “tidak gratis”.

Niat hati meninggalkan kantor b*ngsat samsat lakn*t siang itu. Ketika aku menyalakan mesin motor, ada seorang petugas parkir (mungkin –karena dia tidak berseragam petugas parkir) menghampiriku. “Ada parkir juga bos?” kataku. Dia senyam-senyum. Langsung saja aku tembak. “Kalau aku tak mau bayar?!” kataku dengan nada agak tinggi. “Enggak apa-apa,” jawabnya. “Ha..?!” aku sambar lagi dengan nada lebih tinggi. “Boleh-boleh..” jawabnya makin pelan. Dia pun pelan-pelan berlalu dari hadapanku, senyam-senyum tak jelas alias terhegeh-hegeh.

Saudara-saudara, ini jelas bukan soal uang limaratus perak. Kalau memang dia (petugas parkir itu) benar, tentu dia akan menjawab iya, bahwa memang dikenakan biaya parkir. Tak hanya di satu tempat saja. Kejadian serupa pernah aku alami di tempat-tempat lain. Karena memang petugas parkir yang menghampiriku, tidak berseragam petugas parkir.

Satu hal lagi, biasakanlah meminta tanda bukti (karcis) parkir. Pernah pula suatu ketika, petugas parkir (berseragam) tak mampu memberikan karcis parkir yang ku minta. Jelas, aku enggan membayarnya.

Selain itu, coba perhatikan betul-betul jika petugas parkir memberikan karcis parkirnya. Apakah karcis itu berasal dari buku (seperti kwitansi) karcis parkir yang baru disobeknya ketika itu? Atau dia mengambil dari saku/kantong pakainnya? Bisa jadi itu karcis parkir yang lama. Petugas parkir enggan memberikan karcis parkir, karena setorannya kepada dinas/instansi yang membawahinya berdasarkan karcis parkir yang habis.

Pernah pula aku mendengar, karcis parkir itu mereka beli dengan harga tertentu. Jadi dinas/instansi yang membawahi perparkiran menjual karcis-karcis parkir kepada petugas parkir.

Petugas parkir bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri untuk mencari makan (terserah dengan cara apapun). Makanya mereka bertebaran di mana-mana. Duit parkir langsung masuk ke kantong pribadi. Karena, di awal mereka telah membayar kepada dinas/instansi yang mengeluarkan karcis parkir. Makanya petugas parkir enggan memberikan karcis kepada pengendara. Bila karcis mereka habis, mereka harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli karcis ke dinas/instansi tersebut.

Smart Ojek

Ini satu lagi pengalaman penulis juga. Beberapa bulan lalu, penulis pun menjadi tukang ojek. Tapi bisa dibilang “smart ojek” (hehe.. narsis). Penulis beroperasi di jam-jam tertentu. Jam-jam dimana manusia banyak membutuhkan jasa ojek: pagi (berangkat kerja) dan sore (pulang kerja). Di pagi hari, penulis berusaha mencari penumpang yang mau berlangganan walaupun bayarannya tidak per bulan, tetap dibayar per hari. Jika si penumpang tidak berangkat kerja, atau berangkat tidak dengan ojek (misalnya hujan), si penumpang akan meng-sms penulis. Di sore hari pun demikian.

Dari statistik yang penulis kumpulkan, jumlah manusia yang membutuhkan jasa ojek berada pada puncaknya yaitu pada sore hari, ketika ramai orang pulang kerja. Sedangkan di pagi hari, penumpang yang membutuhkan jasa ojek lebih sedikit. Apalagi penumpang banyak naik ojek dari pangkalan, yang banyak bertebaran di hampir seluruh simpang jalan atau komplek perumahan.

Pangkalan ojek ini menjadi satu “tantangan” tersendiri. Hampir di setiap simpang ada pangkalan ojek. Jadinya, kans (chance) mendapatkan penumpang minim. Tapi yang namanya rejeki kan ada yang ngatur. Toh bagi kita-kita yang jadi “tukang ojek lepas” (yang tidak memiliki pangkalan), masih bisa mengais rejeki. Penulis pernah menerima bayaran 20 ribu rupiah untuk jasa yang seharusnya hanya 6 ribu rupiah. Di lain waktu, penulis pernah menerima bayaran 2 ribu rupiah untuk bayaran seharusnya 6 ribu rupiah (abis.. penumpangnya minta tolong, katanya cuma punya 2 ribu). Ya, begitulah kehidupan. Kita membantu orang, orang lain pula yang akan membantu kita. Rejeki akan datang dari jalan-jalan yang tidak terduga jika kita ikhlas mencarinya.

Kembali ke soal pangkalan ojek, bukan pangkalan militer meskipun sama-sama pangkalan (yang satu pangkalan mencari duit, yang satu pangkalan menghabiskan duit rakyat). Penulis pernah batal menarik penumpang, gara-gara berselisih dengan pengojek di pangkalan.

Ketika itu, penulis lewat di daerah pertokoan/ruko di Batam Centre. Ada calon penumpang tengah berjalan kaki. Setelah si calon penumpang dan penulis “deal,” penumpang pun naik ke motor. Eh, tiba-tiba datang seorang tukang ojek dan seorang tukang parkir. “Bla bla bla …” calon penumpang tadi akhirnya diangkut oleh si tukang ojek yang menjelma tiba-tiba itu. Rupanya tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara), ada pangkalan ojek. Dan sepertinya otomatis, penumpang di sekitar itu (entah radius berapa meter dari pangkalan) menjadi hak bagi tukang ojek di pangkalan. Penulis pun hanya bisa pasrah. Padahal kita-kita pengojek yang tak memiliki pangkalan ini lebih rajin. Kita berkeliling. Tapi yang dapat hak, justru pengojek yang “bermalas-malasan” di pangkalannya.

Bagi saudara-saudara yang tertarik dan mau ikut mangkal di satu pangkalan, kita mesti setor uang dulu. Istilahnya, beli pangkalan. Uang itu dimasukkan dalam kas pangkalan tersebut. Jumlah untuk “register” di pangkalan ojek beragam, sekitar 200 ribu-250 ribu rupiah. Setelah itu baru kita bisa ongkang-ongkang kaki di pangkalan (ongkang-ongkang kepala juga bisa), bisa berteduh, bisa bercengkerama, main kartu (main mainan sendiri bisa gak ya? Ups..what’s that), dan sebagainya dengan sesama member pangkalan (tapi sayangnya belum ada pangkalan ojek yang memiliki fasilitas hotspot, hehe..).

Satu lagi tips bagi Anda yang berminat menjadi tukang ojek: Jangan mengantar penumpang yang “tak jelas,” terutama pada malam hari. Penulis mendapat nasehat ini dari seorang ex-tukang ojek era 1990-an hingga awal 2000-an. Pria paruh baya yang sekarang bekerja sebagai supir taksi hotel di Batam itu berpesan, jangan menarik ojek terlalu malam-malam dan selalu hati-hati terhadap penumpang yang mencurigakan. “Di Batam sekarang udah banyak orang gak makan, Mas,” kata pria asli Flores itu kepada penulis –sebagai tukang ojek– yang mengantar dia pulang dari Nagoya ke Bengkong Kolam. Dia pun memberi bayaran yang lebih dari seharusnya. “Tengkiu sukron mercy gracia xie xie suwon nuhun terimakasih, Om..”

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.