Ini satu lagi pengalaman penulis juga. Beberapa bulan lalu, penulis pun menjadi tukang ojek. Tapi bisa dibilang “smart ojek” (hehe.. narsis). Penulis beroperasi di jam-jam tertentu. Jam-jam dimana manusia banyak membutuhkan jasa ojek: pagi (berangkat kerja) dan sore (pulang kerja). Di pagi hari, penulis berusaha mencari penumpang yang mau berlangganan walaupun bayarannya tidak per bulan, tetap dibayar per hari. Jika si penumpang tidak berangkat kerja, atau berangkat tidak dengan ojek (misalnya hujan), si penumpang akan meng-sms penulis. Di sore hari pun demikian.
Dari statistik yang penulis kumpulkan, jumlah manusia yang membutuhkan jasa ojek berada pada puncaknya yaitu pada sore hari, ketika ramai orang pulang kerja. Sedangkan di pagi hari, penumpang yang membutuhkan jasa ojek lebih sedikit. Apalagi penumpang banyak naik ojek dari pangkalan, yang banyak bertebaran di hampir seluruh simpang jalan atau komplek perumahan.
Pangkalan ojek ini menjadi satu “tantangan” tersendiri. Hampir di setiap simpang ada pangkalan ojek. Jadinya, kans (chance) mendapatkan penumpang minim. Tapi yang namanya rejeki kan ada yang ngatur. Toh bagi kita-kita yang jadi “tukang ojek lepas” (yang tidak memiliki pangkalan), masih bisa mengais rejeki. Penulis pernah menerima bayaran 20 ribu rupiah untuk jasa yang seharusnya hanya 6 ribu rupiah. Di lain waktu, penulis pernah menerima bayaran 2 ribu rupiah untuk bayaran seharusnya 6 ribu rupiah (abis.. penumpangnya minta tolong, katanya cuma punya 2 ribu). Ya, begitulah kehidupan. Kita membantu orang, orang lain pula yang akan membantu kita. Rejeki akan datang dari jalan-jalan yang tidak terduga jika kita ikhlas mencarinya.
Kembali ke soal pangkalan ojek, bukan pangkalan militer meskipun sama-sama pangkalan (yang satu pangkalan mencari duit, yang satu pangkalan menghabiskan duit rakyat). Penulis pernah batal menarik penumpang, gara-gara berselisih dengan pengojek di pangkalan.
Ketika itu, penulis lewat di daerah pertokoan/ruko di Batam Centre. Ada calon penumpang tengah berjalan kaki. Setelah si calon penumpang dan penulis “deal,” penumpang pun naik ke motor. Eh, tiba-tiba datang seorang tukang ojek dan seorang tukang parkir. “Bla bla bla …” calon penumpang tadi akhirnya diangkut oleh si tukang ojek yang menjelma tiba-tiba itu. Rupanya tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara), ada pangkalan ojek. Dan sepertinya otomatis, penumpang di sekitar itu (entah radius berapa meter dari pangkalan) menjadi hak bagi tukang ojek di pangkalan. Penulis pun hanya bisa pasrah. Padahal kita-kita pengojek yang tak memiliki pangkalan ini lebih rajin. Kita berkeliling. Tapi yang dapat hak, justru pengojek yang “bermalas-malasan” di pangkalannya.
Bagi saudara-saudara yang tertarik dan mau ikut mangkal di satu pangkalan, kita mesti setor uang dulu. Istilahnya, beli pangkalan. Uang itu dimasukkan dalam kas pangkalan tersebut. Jumlah untuk “register” di pangkalan ojek beragam, sekitar 200 ribu-250 ribu rupiah. Setelah itu baru kita bisa ongkang-ongkang kaki di pangkalan (ongkang-ongkang kepala juga bisa), bisa berteduh, bisa bercengkerama, main kartu (main mainan sendiri bisa gak ya? Ups..what’s that), dan sebagainya dengan sesama member pangkalan (tapi sayangnya belum ada pangkalan ojek yang memiliki fasilitas hotspot, hehe..).
Satu lagi tips bagi Anda yang berminat menjadi tukang ojek: Jangan mengantar penumpang yang “tak jelas,” terutama pada malam hari. Penulis mendapat nasehat ini dari seorang ex-tukang ojek era 1990-an hingga awal 2000-an. Pria paruh baya yang sekarang bekerja sebagai supir taksi hotel di Batam itu berpesan, jangan menarik ojek terlalu malam-malam dan selalu hati-hati terhadap penumpang yang mencurigakan. “Di Batam sekarang udah banyak orang gak makan, Mas,” kata pria asli Flores itu kepada penulis –sebagai tukang ojek– yang mengantar dia pulang dari Nagoya ke Bengkong Kolam. Dia pun memberi bayaran yang lebih dari seharusnya. “Tengkiu sukron mercy gracia xie xie suwon nuhun terimakasih, Om..”
