Tag Archive: sastra


Pergilah

Aku tengah berehat ketika itu

Nak pulihkan kedayaan yang memang terhat

Sebilah beluti kau humban ke arah rumahku

Pinggan belangaku pun berkecai kau lumat

 

Entah apa pasal perangaimu tak menentu

Sepertinya ada hajat di hatimu

Nak tebas leherku

Nak tembuk perutku

Nak koyak dadaku

 

Aku tak dapat tangkap apa matlamat yang hendak kau sampaikan

Namun aku tetap bersantun menjaga resam

Meski tergamak kau buat mukaku lebam

Meski tak teragak kau buat sampanku karam

Meski kau tahu sedikit banyak keperkasaanku di masa silam

Meski kau tahu aku belum lagi khatam

 

Kau tahu itu

Tapi kau tetap mengarut

Sepanjang pagi dan petang kau bersungut

Katamu aku tak patut

 

Bila kepalaku sedikit tegak

Kau kata aku degil

Telingaku pula kau sentil

 

Bila aku bertentang mata

Tak lengah aku kau sengat

Tanpa jeda mulutku kau sumbat

 

Aku dah sya’

Kau dan aku memang ada sempadan

Kau dan aku memang tak sepadan

 

Apa pun saji yang kau semah

Aku akan tetap resah

Apa pun benda yang kau tempah

Aku akan tetap gundah

 

Sudahlah

Kau tak tahu madah

Kau tak tahu maruah

 

Pergilah

Jangan sampai aku berludah

 taufik_ismail.jpg

Sastrawan Taufik Ismail mengkritik sistem pendidikan yang tidak memberi porsi besar terhadap pembiasaan membaca dan mengarang untuk para anak didik, sehingga hasilnyapun bisa disebut sebagai bagian dari “Generasi Nol Buku”.

Kritik itu disampaikan oleh Taufik ketika menerima Habibie Award 2007 dalam rangka memperingati ulang tahun kedelapan The Habibie Center di Hotel Gren Melia, Jakarta, Kamis (6/12).

Dalam makalahnya yang berjudul Generasi Nol Buku: Yang Rabun Membaca, Pincang Mengarang, Taufik mengaku, ia bersama puluhan ribu murid lain dari SMA-SMA di seluruh Tanah Air pada 1953-1956 sudah menjadi “Generasi Nol Buku”, yang “rabun membaca” dan “pincang mengarang”. Generasi itu, menurut Taufik, jadi “rabun membaca” karena tidak mendapat tugas membaca melalui perpustakaan sekolah dan jadi “pincang mengarang”  lantaran tak ada latihan mengarang dalam pelajaran di sekolah.

Taufik membandingkan pelajaran membaca dan mengarang siswa Indonesia dengan siswa dari beberapa negara lain dalam sebuah survei sederhana. Hasilnya, mencengangkannya. Sementara pelajar Indonesia tidak mendapat tugas membaca dan mengarang, murid SMA di Amerika Serikat diharuskan membaca 32 buku. Bahkan, di negara berkembang Thailand, siswa SMA juga diharuskan membaca lima buku.

Kewajiban membaca dan mengarang, menurut Taufik, bukan bertujuan untuk membuat siswa menjadi sastrawan, melainkan untuk memiliki keahlian yang dibutuhkan di setiap profesi.

“Membaca buku sastra mengasah dan menumbuhkan budaya baca buku secara umum. Latihan menulis mempersiapkan orang mampu menulis di bidang masing-masing,” ujarnya.

“Generasi Nol Buku” itulah yang kini, kata Taufik, menjadi warga Indonesia yang terpelajar serta memegang posisi menentukan arah negara di seluruh strata baik di pemerintahan maupun di swasta. “Beberapa sebab mendasar amburadulnya Indonesia sekarang mungkin sekali karena, dalam fase pertumbuhan intelektual, mereka  membaca nol buku di sekolah,” ujarnya lagi.

Sebagai pemenang Habibie Award 2007, Taufik berhak atas medali, piagam penghargaan, dan hadiah uang sebesar 25 ribu dollar AS.

Para pemenang lainnya adalah Prof Dr Sri Widiyantoro dari bidang ilmu dasar, Prof Elin Yulinah Sukandar dari bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi, dan Dr HC Rosihan Anwar dari bidang sosial.

Habibie Award diberikan kepada perseorangan atau badan yang dinilai sangat aktif dan berjasa besar dalam menemukan, mengembangkan, dan menyebarluaskan berbagai kegiatan iptek yang baru serta bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian. (Ant/ati)

(Sumber: Kompas, Jumat 07 Desember 2007. Foto: swaramuslim.net)

picture1.jpg

Amuk Menggelegak

Aku bercakap tutur

Bukan nak mengatur

 

Aku bertutur ujar

Bukan nak tunjuk ajar

 

Aku berujar kata

Bukan nak mengata

 

Aku berkata kata

Bukan nak mengata ngata

 

Biar terbata apa yang hendak dikata

Takkan ku henti hingga terkata

 

Biar terputus apa yang hendak diutus

Takkan ku henti hingga tergerus

 

Biar tercegah apa yang hendak disanggah

Takkan ku henti hingga terluah

 

Dengan segak

Aku berdiri tegak

Bukan nak berlagak

Hanya amuk di hati dah menggelegak

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.